Selasa, 25 Desember 2012

Pengembangan Tes Evaluasi Hasil Belajar

PENGEMBANGAN TES SEBAGAI INSTRUMEN EVALUASI

A.  PENDAHULUAN

Proses terakhir dalam kegiatan organisasi adalah penilaian atau evaluasi. evaluasi adalah kegiatan penilaian dan pengukuran yang berupa kegiatan mengumpulkan dan mengolah informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil suatu keputusan untuk langkah berikutnya.
Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mempunyai tujuan, tujuan tersebut dinyatakan dalam rumusan kemampuan atau perilaku yang diharapkan dimiliki siswa setelah menyelesaikan kegiatan belajar. Untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan pengajaran serta kualitas proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan, perlu dilakukan suatu usaha penilaian atau evaluasi terhadap hasil belajar siswa. Kegunaan evaluasi dalam proses pendidikan adalah untuk mengetahui seberapa jauh siswa telah menguasai tujuan pelajaran yang telah ditetapkan, juga dapat mengetahui bagian-bagian mana dari program pengajaran yang masih lemah dan perlu diperbaiki. Salah satu cara yang digunakan dalam evaluasi diantaranya dengan menggunakan teknik pengumpulan data tes, melalui tes kita dapat mengetahui sejauh mana kemampuan siswa dalam menerima pelajaran yang telah diberikan.
Dalam  merancang  penilaian,    pendidik  dapat  melakukannya  dengan  cara, yakni: (1) mencermati silabus dan sistem penilaian yang sudah ada, (2)  menyusun sistem penilaian dengan KBK berdasarkan silabus dan sistem penilaian yang telah disusun, (3) menentukan bobot masing-masing jenis tagihan, dan (4) menyusun rancangan sistem penilaian dengan KBK. Rancangan penilaian ini diinformasikan kepada  siswa  pada  awal  pertemuan (awal  semester). Dengan demikian sistem penilaian yang dilakukan guru semakin sempurna atau semakin memenuhi prinsip-prinsip penilaian.
Tahapan pelaksanaan evaluasi proses pembelajaran adalah penentuan tujuan, menentukan desain evaluasi, pengembangan instrumen evaluasi, pengumpulan informasi/data, analisis dan interpretasi dan tindak lanjut. Instrumen evaluasi hasil belajar untuk memperoleh informasi deskriptif dan/atau informasi judgemantal dapat berwujud tes maupun non-test. Tes dapat berbentuk obyektif atau uraian; sedang non-tes dapat berbentuk lembar pengamatan atau kuesioner. Tes obyektif dapat berbentuk jawaban singkat, benarsalah, menjodohkan dan pilihan ganda dengan berbagai variasi : biasa, hubungan antar hal, kompleks, analisis kasus, grafik dan gambar tabel. Untuk tes uraia yang juga disebut dengan tes subyektif dapat berbentuk tes uraian bebas, bebas terbatas, dan terstruktur. Selanjutnya untuk penyusunan instrumen tes atau nontes, seorang guru harus mengacu pada pedoman penyusunan masing-masing jenis dan bentuk tes atau non tes agar instrumen yang disusun memenuhi syarat instrumen. yang baik, minimal syarat pokok instrumen yang baik, yaitu valid (sah) dan reliable (dapat dipercaya).




B.  PENGERTIAN DAN JENIS TES SEBAGAI INSTRUMEN ASESMEN

1.   Pengertian Tes
     Tes secara sederhana dapat   diartikan sebagai   himpunan pertanyaan yang harus dijawab, pernyataan-pernyataan yang harus dipilih/ditanggapi, atau tugas-tugas yang harus dilakukan oleh peserta tes dengan tujuan untuk mengukur suatu aspek tertentu dari peserta tes. Dalam kaitan dengan pembelajaran aspek tersebut adalah indikator pencapaian kompetensi. Tes berasal dari bahasa Perancis yaitu “testum” yang berarti piring untuk menyisihkan logam mulia dari material lain seperti pasir, batu, tanah, dan sebagainya. Kemudian diadopsi dalam psikologi dan pendidikan untuk menjelaskan sebuah   instrumen yang dikembangkan untuk dapat melihat dan mengukur dan menemukan peserta Tes   yang memenuhi kriteria tertentu. Cronbach (dalam  Azwar, 2005)  mendefinisikan  tes  sebagai “a  systematic  procedure  for observing a person’s behavior and describing it with the aid of a numerical scale or category system”.
Menurut Ebster’s Collegiate (dalam Arikunto, 1995), tes adalah serangkaian pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensia, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Dari dua definisi tersebut dan uraian lebih jauh tentang itu dapat ditarik   pengertian bahwa: (1) tes adalah prosedur pengukuran yang sengaja dirancang secara sistematis, untuk mengukur atribut tertentu, dilakukan dengan prosedur  administrasi  dan  pemberian  angka  yang  jelas  dan  spesifik, sehingga hasilnya relatif ajeg bila dilakukan dalam kondisi yang relatif sama; (2)   tes   pada umumnya berisi sampel perilaku, cakupan butir tes yang bisa dibuat dari suatu materi tidak terhingga jumlahnya, yang secara keseluruhan mungkin mustahil dapat tercakup dalam tes, sehingga tes harus dapat mewakili kawasan (domain) perilaku yang diukur, untuk itu perlu pembatasan yang jelas; (3) tes menghendaki subjek agar menunjukkan apa yang diketahui atau apa yang dipelajari dengan cara menjawab atau mengerjakan tugas   dalam tes. Respon subjek atas tes merupakan perilaku yang ingin diketahui dari penyelenggaraan tes, karena tes memang mengukur perilaku, sebagai manifestasi atribut psikologis yang mau diukur.
Tes pada dasarnya adalah alat ukur atribut psikologis yang objektif atas sampel perilaku tertentu. Dalam psikologi, tes dapat diklasifikasikan menjadi empat, yaitu: (1) tes yang mengukur  intelegensia  umum  yang  dirancang  untuk  mengukur kemampuan umum seseorang dalam suatu tugas; (2) tes yang mengukur kemampuan khusus atau tes bakat yang dibuat untuk mengungkap kemampuan potensial dalam bidang tertentu;  (3) tes yang ditujukan untuk mengukur prestasi yang digunakan untuk  mengungkapkan  kemampuan  aktual  sebagai  hasil  belajar; (4)  tes  yang mengungkap aspek kepribadian (personality assesment) yang bertujuan mengungkap karakteristik  individual  subjek  dalam  aspek  yang  diukur.  Dengan  melihat penggolongan di atas, tes  dalam pembelajaran di kelas yang menjadi pembahasan ini adalah tes prestasi atau hasil belajar. Tes sebagai alat ukur dapat menyediakan informasi-informasi obyektif yang dapat digunakan  sebagai pertimbangan dalam penentuan keputusan yang harus diambil pendidik terhadap proses dan hasil belajar yang dilakukan siswa dapat dibagi menjadi tiga kelompok besar yaitu:

a.    Keputusan yang diambil pada pemulaan proses pembelajaran
Penggunaan tes sebagai dasar pengambilan keputusan pada permulaan proses pembelajaran bermuara pada dua pertanyaan yang harus dijawab    oleh pendidik sebelum memulai proses pembelajaran yaitu; (1) sejauh manakah  pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang harus dimiliki oleh siswa sebelum mengikuti proses pembelajaran yang berupa kemampuan awal yang diperlukan untuk mengikuti proses pembelajaran, (2) sejauhmanakah kemampuan dan keterampilan yang telah dicapai peserta didik terhadap pembelajaran  yang direncanakan. Keduanya akan menentukan keputusan guru dalam merancang materi dan metode pembelajaran yang direncanakan.
b.    Keputusan selama proses pembelajaran
Tes  dapat  pula  digunakan  selama  proses  pembelajaran  (tes  formatif). Tes formatif dapat diberikan baik dalam bentuk tes tulis maupun tes lisan, baik dengan jawaban uraian maupun tes obyektif.
c.    Keputusan-keputusan pada akhir pembelajaran
Tes  formatif  yang  diberikan  guru  pada  akhir  pembelajaran  ditujukan  untuk mengetahui apakah kompetensi dasar yang dirumuskan dalam program pembelajaran (satuan  pembelajaran)  telah  tercapai  atau  belum.  Jadi,  fungsi  tes  pada  akhir pembelajaran adalah untuk mengukur daya serap siswa pada materi pembelajaran. Sehingga guru dapat merencanakan tindak lanjut terhadap rencana, proses, media, metode, dan suasana pembelajaran. Seperti penilaian selama proses keputusan akhir pembelajaran dapat berasal dari informasi tes obyektif atau tes subyektif.

2.   Jenis-jenis Tes
       Pada jenis-jenis tes, ada lima jenis atau cara pembagian yaitu:
a.   Pembagian jenis tes berdasarkan tujuan penyelenggaraan.
b.   Jenis tes berdasarkan waktu penyelenggaraan.
c.   Pembagian jenis tes berdasarkan cara mengerjakan.
d.   Pembagian jenis tes berdasarkan cara penyusunan.
e.   Pembagian jenis tes berdasarkan bentuk jawaban.


C.  LANGKAH-LANGKAH MENYUSUN TES

proses pengukuran merupakan proses kuantifikasi terhadap atribut, benda atau gejala tertentu. Proses pengukuran diharapkan dapat menghasilkan data yang valid dan akurat sehingga harus  dilakukan  secara  terencana  dan  sistematis. Pengukuran
berbagai atribut yang berupa benda ataupun aspek-aspek phisik seperti mengukur tinggi bangunan, mengukur tinggi bangunan imbang beras, mengukur tinggi badan, berat badan, luas tanah, suhu udara, ataupun kecepatan motor sangat mungkin dapat dilakukan dengan tepat karenanya dapat diterima secara  universal karena validitasnya sangat mudah dibuktikan. Tinggi suatu bangunan dengan mudah dapat diukur dengan centimeter, meter, berat beras dengan cepat dapat diukur dengan timbangan dan  sebagainya, dimana ketepatan (validitas) maupun keajegan hasil pengukurannya (reliabilitas) serta obyektivitas hasil pengukurannya tidak lagi perlu diragukan, karena dengan mudah akan dapat dilakukan pengukuran ulang dengan hasil yang sama persis.
Sebagai  pendidik,  yang  menjadi  persoalan  kemudian  adalah pengukuran hasil belajar yang termasuk bidang non phisik atau aspek yang bersifat abstrak. Dalam hal ini pendidik harus paham bahwa   aspek yang bersifat abstrak seperti hasil belajar ini dalam melakukan pengukuran memerlukan perencanaan dan pelaksanaan yang sistematis. Alat yang biasa digunakan sebagai alat ukur dari hasil belajar adalah tes. Sehingga dapat dikatakan bahwa tes merupakan salah satu alat ukur dalam melakukan asesmen proses dan hasil pembelajaran. Seperti halnya atribut psikologis yang lain ketika melakukan pengukuran terhadap hasil belajar, tes sebagai alat ukur mungkin tidak akan pernah dapat menggambarkan hasil dengan validitas dan reliabilitas ataupun obyektivitas yang sempurna. Untuk itu dalam menyusun tes sebagai alat ukur hasil belajar perlu dipertimbangkan beberapa permasalahan yang merupakan keterbatasan dari tes sebagai alat ukur psikologis (Saifuddin, 2005):

1.   Langkah Pokok Mengembangkan Tes
Mengembangkan tes sebagai instrumen asesmen proses dan   hasil   belajar adalah menyusun alat ukur suatu gejala yang bersifat abstrak yaitu pemahaman dan penguasaan anak terhadap materi yang berupa seperangkat kompetensi dipersyaratkan, dan dalam kenyataan di lapangan   sebagian besar tenaga pengajar memang   menggunakan teknik tes sebagai upaya untuk mengukur hasil belajar tersebut. Karena demikian seringnya pengajar menyusun  tes  hasil  belajar,  justru  sering  menimbulkan  kecerobohan,  karena menganggap hal ini sebagai hal yang sudah biasa/umum dilakukan, dan kurang perlu mempersiapkannya secara   cermat.  Padahal penyusunan tes, sangat besar pengaruhnya terhadap siswa yang akan mengikuti tes, untuk mengurangi kesalahan dalam pengukuran maka tes harus direncanakan secara cermat. Secara umum ada lima langkah pokok yang harus dilewati yaitu :

a)  Perencanaan Tes
Dalam langkah perencanaan tes ada beberapa kegiatan yang harus dilakukan guru sebagai pendidik yaitu :

Ø  Menentukan cakupan materi yang akan diukur yang menyangkut penetapan cakupan materi dan aspek (ranah) kemampuan yang akan diukur. Penetapan ini penting mengingat bahwa kemampuan belajar merupakan proses yg kompleks dan menyangkut pemahaman yang bersifat abstrak, sehingg harus jelas pada bagian mana cakupan materi yang akan diukur dan dikembangkan dalam soal tes, langkah ini biasanya dilakukan dengan menyusun kisi-kisi soal yaitu daftar spesifikasi, Ada tiga langkah dalam mengembangkan kisi-kisi tes dalam sistem penilaian berbasis kompetensi dasar, yaitu; (1) Menulis kompetensi dasar, (2) Menulis materi pokok, (3) Menentukan indikator, dan (4) Menentukan jumlah soal.
Ø  Bentuk  Tes :  Pemilihan  bentuk  tes  akan  dapat  dilakukan  dengan  tepat  bila didasarkan  pada  tujuan  tes,  jumlah  peserta  tes,  waktu  yang  tersedia  untuk memeriksa lembar jawaban tes, cakupan materi tes, dan karakteristik mata pelajaran yang diujikan. Misalnya, bentuk tes objektif pilihan ganda dan bentuk tes benar salah cocok digunakan bila jumlah peserta tes banyak, waktu koreksi singkat, dan cakupan materi yang diujikan banyak. Bentuk tes objektif lebih cocok  digunakan  pada  mata  pelajaran  yang  batasnya  jelas,  misalnya  mata pelajaran  Matematika,  Biologi,  dan  sebagainya.  Dalam  memilih  teknik  tes mana  yang  akan  digunakan  Pendidik  juga    harus  mempertimbangkan  ciri indikator, contoh, apabila tuntutan indikator melakukan sesuatu, maka teknik penilaiannya  adalah  tes  unjuk  kerja (performance),  sedang  bila  tuntutan indikator  berkaitan  dengan pemahaman  konsep,  maka  teknik  penilaiannya adalah tes tertulis. Tingkat berpikir yang digunakan dalam mengerjakan tes harus mencakup mulai yang rendah sampai yang tinggi, dengan proporsi yang sebanding sesuai dengan jenjang pendidikan.
Ø  Menetapkan panjang Tes : langkah menetapkan panjang tes, meliputi berapa waktu yang tersedia untuk melakukan tes, hal ini terkait erat dengan penetapan jumlah item-item tes   yang akan dikembangkan. Apabila oleh pendidik ada materi yang dinilai lebih penting dan mempunyai tingkat kesulitan yang lebih tinggi, guru bisa memberikan pembobotan yang berbeda dari setiap soal yang disusun. Ada tiga hal yang harus dipertimbangkan dalam menentukan jumlah soal, yaitu bobot masing-masing bagian yang telah ditentukan dalam kisi-kisi, keandalan yang diinginkan, dan waktu yang tersedia.

b)  Menulis Butir Pertanyaan
Setelah selesai mencermati dan menjabarkan setiap indikator menjadi diskriptor-diskriptor, dan telah ditetapkan ukurannya, maka pendidik mulai dapat mengembangkan atau menulis butir pertanyaan sesuai dengan kisi-kisi yang telah ditetapkan. Ada 3 kegiatan pokok dalam menulis butir soal yaitu:

Ø  Menulis draft soal : Menulis soal bagi Anda pasti sudah menjadi pekerjaan rutin sebelum ulangan, tetapi seharusnya Anda perlu mencermatinya karena langkah ini juga memerlukan kecermatan dalam memilih kalimat-kalimat yang mudah dimengerti dan tidak menimbulkan interpretasi ganda. Ada dua hal yang perlu mendapat perhatian dalam penulisan butir pertanyaan yaitu format pertanyaan dan alternatif jawaban. Dalam hal ini perlu diperhatikan beberapa hal yaitu, (1) apakah pertanyaan mudah dimengerti? (2) apakah sudah sesuai dengan indikator (3) apakah tata letak keseluruhan baik? (4) apakah perlu pembobotan (5) apakah kunci jawaban sudah benar?
Ø  Memantapkan Validitas Isi (Content Validity): Content validity   atau validitas isi pada dasarnya merupakan koefisien yang menunjukkan kesesuaian antara draft tes yang telah disusun dengan isi dari konsep dan kisi-kisi yang telah disusun, apakah semua materi telah terjabar dalam item, dan apakah soal yang disusun telah pula sesuai ranah atau kawasan yang akan diukur. Langkah ini dapat dilakukan dengan beberapa cara misalnya diskusi dengan sesama pendidik ataupun dengan cara mencermati kembali substansi dari konsep yang akan diukur.
Ø  Melakukan Uji Coba (try out) : Mungkin Anda mengira bahwa try out hanya digunakan untuk tes standard dan tidak perlu dilakukan untuk tes buatan guru. Anggapan itu kurang benar karena uji coba tetap diperlukan dalam penyusunan tes buatan guru,  try out tidak harus dilakukan secara formal   dan dalam skala besar, yang perlu Anda perhatikan   adalah bahwa try out dapat dilakukan untuk berbagai kepentingan diantaranya adalah untuk; (1) Analisis item, (2) Bagaimana rencana pelaksanaan, (3) Memperkirakan penggunaan  waktu  pengerjaan, (4) Kejelasan  format  tes, (5)  Kejelasan petunjuk  pengisian,  dan (6) Pemahaman bahasa yang digunakan dsbnya.
Ø  Revisi soal : Hasil dari uji coba kemudian dilakukan analisis untuk mencari tingkat kesulitan soal dan penggunaan bahasa yang kurang komunikatif, untuk kemudian dilakukan revisi sesuai dengan kebutuhan. Misalnya revisi dilakukan untuk; (1) Eliminasi butir-butir yang jelek, (2) Menambah butir-butir baru, (3) Memperjelas petunjuk, dan (4) Memodifikasi format dan urutan, dsbnya.

c)  Melakukan pengukuran dengan tes
Ada beberapa langkah yang harus diperhatikan pada saat menyelenggarakan tes untuk siswa yaitu :

Ø  Menjaga  obyektivitas  pelaksanaan  tes:  Kegiatan  pengukuran  yang  berupa penyelenggaraan tes juga sudah menjadi kegiatan Anda sehari-hari, meskipun demikian pendidik tetap harus menjaga obyektifitas, baik dalam pengawasan, menjaga kerahasiaan soal, dan berbagai kode etik penyelenggaraan tes yang lain. Setelah ujian dilaksanakan maka langkah berikut adalah koreksi, dan interpretasi dari hasil ujian tersebut, untuk kemudian berdasar data hasil analisis tersebut akan diambil keputusan dalam berbagai kepentingan.
Ø  Memberikan skor pada hasil tes: Yaitu memeriksa hasil jawaban dari para siswa, untuk memberikan skor/angka sebagai penghargaan terhadap setiap poin soal yang dapat dikerjakan, hasilnya berupa angka yang disebut   skor mentah, angka  yang  menunjukkan  berapa  soal  yang  bisa  dijawab  benar  oleh  siswa. Penentuan jumlah soal yang bisa dijawab benar ini tidak menjadi masalah untuk tes obyektif. Namun untuk bentuk soal tes uraian masalah ini akan menjadi persoalan, karena setiap siswa akan mengemukakan   argumentasi yang berbeda-beda untuk menjawab soal dan permasalahan tes. Sehingga dalam melakukan langkah ini harus pula dijaga   obyektivitas dengan selalu menggunakan kunci jawaban dan indikator keberhasilan.
Ø  Melakukan Analisis Hasil Tes : Setelah semua pekerjaan siswa dikoreksi langkah berikutnya adalah melakukan analisis terhadap skor hasil tes. Materi tentang ini akan secara khusus dibahas pada UNIT 6.

2.   Mengembangkan Tes Sebagai Instrumen Asesmen
Setelah membahas  langkah-langkah  pokok  yang  seharusnya  dilakukan dalam pelaksanaan tes. Dengan tetap mengacu pada langkah-langkah pokok tersebut, berikut  ini  akan  dikemukakan  langkah-langkah  detail  yang  diharapkan  dapat menuntun Anda mengembangkan tes sebagai instrumen asesmen di kelas.

a.   Menjabarkan Kompetensi Dasar ke dalam Indikator Pencapaian Hasil Belajar.
Kegiatan  ini,  dalam  langkah  kegiatan  umum  masuk  dalam  langkah “menentukan  cakupan  materi  yang  akan  diukur”. Indikator merupakan ukuran, karakteristik, ciri-ciri, pembuatan atau proses yang berkontribusi / menunjukkan ketercapaian suatu kompetensi dasar. Indikator dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diukur, seperti: menyebutkan, memberikan contoh:mengidentifikasi, menghitung, membedakan, menyimpulkan,  mempraktekkan, mendemonstrasikan. Sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), maka indikator pencapaian hasil belajar dikembangkan  oleh  pendidik dengan memperhatikan perkembangan dan kemampuan setiap  peserta  didik, keluasan dan kedalaman kompetensi dasar, dan daya dukung sekolah, misalnya kemampuan guru dan sarana atau perasarana penunjang. Setiap kompetensi dasar dapat dikembangkan menjadi beberapa indikator pencapaian hasil belajar. Indikator-indikator pencapaian hasil belajar  dari  setiap  kompetensi dasar merupakan acuan yang  digunakan  untuk menyusun butir tes.

b.   Menetapkan Jenis Tes dan Penulisan Butir Soal.
Setelah Anda menjabarkan standar kompetansi, kompetensi dasar, dan indikator  keberhasilannya, maka Anda mulai dapat menetapkan indikator yang menunjukkan tingkat pencapaian kompetensi tersebut sebaiknya dapat diukur dengan menggunakan alat ukur apa, bila ditetapkan tes, akan pula dapat ditetapkan jenis tes yang mana. Di samping itu pemilihan bentuk tes akan dapat dilakukan dengan tepat bila didasarkan pada tujuan tes, cakupan materi tes, karakteristik mata pelajaran yang diukur  pencapaiannya,  jumlah  peserta  tes,  termasuk  waktu  yang  tersedia  untuk memeriksa lembar jawaban tes. Dalam menyusun instrumen penilaian tertulis perlu dipertimbangkan; (1) Materi, misalnya kesesuian soal dengan kompetensi dasar dan indikator pencapaian pada  kurikulum  tingkat  satuan  pendidikan,  (2)  Konstruksi, misalnya rumusan soal atau pertanyaan harus jelas dan tegas, (3) Bahasa, misalnya rumusan soal tidak menggunakan kata/kalimat yang menimbulkan penafsiran ganda, dan (4) Kaidah Penulisan, harus berpedoman pada kaidah penulisan soal yang baku dari berbagai bentuk soal penilaian. Rancangan penilaian ini diinformasikan kepada siswa pada awal pertemuan (awal semester). Dengan demikian sistem penilaian yang dilakukan guru semakin sempurna atau semakin memenuhi prinsip-prinsip penilaian.





D.  MENGEMBANGKAN TES PADA KAWASAN KOGNITIF, AFEKTIF, DAN PSIKOMOTOR

Mungkin masih ada anggapan bahwa tes tertulis khususnya dalam bentuk  tes  obyektif hanya cocok untuk mengukur pencapaian hasil belajar pada  kawasan  kognitif  saja. Anggapan itu tidak bisa dibenarkan karena dengan pemahaman yang tinggi terhadap cakupan materi maupun teknik evaluasi, pendidik akan dapat mengembangkan tes tertulis yang dapat meliput dua kawasan yang lain yaitu afektif maupun psikomotor.

1.   Mengembangkan  Tes pada Domain Kognitif
Pada  dasarnya  akan  sangat mudah mengembangkan  tes  untuk  mengukur indikator pencapaian hasil belajar pencapaian kawasan  (domain) kognitif, hampir semua jenis tes dengan  berbagai bentuk soal  dapat digunakan untuk  mengukur kawasan ini seperti misalnya :

a.   Tes Lisan
Pertanyaan secara lisan masih sering digunakan untuk mengukur daya serap peserta  didik  pada  kawasan  kognitif.  Yang  perlu  Anda  ingat  tes  lisan  harus disampaikan dengan jelas, dan semua peserta didik harus diberi kesempatan yang sama.  Beberapa  prinsip  yang  harus  dipedomani  adalah  memberi  waktu  untuk berpikir, baru menunjuk peserta untuk menjawab pertanyaan. Tingkat berpikir untuk pertanyaan lisan di kelas cenderung rendah, seperti pengetahuan dan pemahaman. Jawaban salah satu siswa harus dikembalikan ke forum kelas untuk ditanggapi siswa
yang lain.

b.   Tes  Pilihan Ganda
Ketika Anda mengembangkan   tes pilihan ganda hendaknya memperhatikan sepuluh pedoman penulisannya yaitu: (1) soal harus jelas, (2) isi pilihan jawaban homogen dalam arti isi, (3) panjang kalimat pilihan jawaban relatif sama, (4) tidak ada petunjuk jawaban benar,  (4) hindari mengggunakan pilihan jawaban “semua benar “ atau “semua salah”, (6) pilihan jawaban angka diurutkan, (7) pilihan jawaban logis dan tidak menggunakan negatif ganda,  (8) kalimat yang digunakan sesuai dengan tingkat perkembangan peserta tes, (9) menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan baku, dan (10) letak pilihan jawaban benar ditentukan secara acak.

c.   Bentuk Tes  uraian Obyektif
Bentuk ini tepat digunakan untuk bidang Matematika dan IPA, karena kunci jawabannya hanya satu. Pengerjaan soal ini melalui suatu prosedur atau langkahlangkah tertentu. Setiap langkah ada skornya. Objektif disini dalam arti apabila diperiksa oleh beberapa guru dalam bidang studi tersebut hasil penskorannya akan sama. Pertanyaan pada bentuk soal ini di antaranya adalah: hitunglah, tafsirkan, buat kesimpulan dsbnya.

d.   Bentuk Tes Uraian
Tes ini menuntut siswa menyampaikan, memilih, menyusun, dan memadukan gagasan dan ide-idenya dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Keunggulan bentuk tes ini dapat mengukur tingkat berpikir dari yang rendah sampai yang tinggi, yaitu mulai dari hapalan sampai dengan evaluasi. Kelemahan bentuk tes ini adalah : (1) penskoran sering dipengaruhi oleh subjektivitas penilai, (2) memerlukan waktu yang  lama  untuk  melakukan koreksi, (3) cakupan  materi  yang  diujikan  sangat terbatas, (4) dan adanya efek bluffing. Untuk menghindari kelemahan tersebut cara yang ditempuh adalah: (a) jawaban tidak panjang, sehingga bisa mencakup materi yang banyak, (b) tidak melihat nama peserta ujian, (c) memeriksa tiap butir secara keseluruhan, dan (d) menyiapkan pedoman penskoran.

e.   Bentuk Tes jawaban Singkat
Tes ini mengharuskan siswa menuliskan jawaban singkatnya sesuai dengan petunjuk. Ada tiga jenis soal bentuk ini, yaitu: jenis pertanyaan, jenis melengkapi atau isian, dan jenis identifikasi atau asosiasi. Ketika Anda menyusun tes bentuk ini perhatikan keharusannya yaitu; (1) soal mengacu pada indikator, (2) rumusan kalimat soal harus komunikatif, dan (3) tidak menimbulkan interpretasi ganda.

f.    Bentuk  Tes  Menjodohkan
Pengerjaan tes ini dilakukan dengan menjodohkan atau memasangkan suatu premis dengan daftar kemungkinan jawaban, dan suatu petunjuk untuk menjodohkan masing-masing premis itu dengan satu kemungkinan jawaban. Bila Anda menuliskan soal bentuk ini perhatikan bahwa: (1) soal harus sesuai dengan indikator, (2) jumlah alternatif jawaban lebih banyak dari pada premis, (3) alternatif jawaban berhubungan secara logis dengan premisnya, (4) rumusan kalimat soal harus komunikatif, dan (5) butir soal menggunakan Bahasa Indonesiayang baik dan benar.

g.   Bentuk Tes Unjuk Kerja (Performance)
Tes bentuk ini   sering pula diklasifikasikan dalam bentuk penilaian autentik atau  penilaian alternatif yang bertujuan untuk mengetahui tingkat  kemampuan peserta didik dalam menyelesaikan masalah-masalah di kehidupan nyata.

2.   Mengembangkan  Tes pada Domain Afektif
Pengembangan tes pada domain afektif ini, untuk beberapa fokus sikap diantaranya adalah :

1)  Sikap terhadap mata pelajaran
Tes  sikap  terhadap  mata  pelajaran  dapat  diberikan  pada  awal  atau  akhir program  agar siswa  memiliki sikap yang lebih baik pada suatu mata pelajaran. Perlu dilakukan   tindakan bila sebagian besar siswa bersikap negatif pada mata pelajaran tertentu.


2)    Sikap positif terhadap belajar
Siswa  diharapkan  memiliki  sikap  yang  baik  terhadap  belajar.  Siswa  yang memiliki sikap positif terhadap belajar cenderung menjadi pembelajar pada masa depan.

3)    Sikap  terhadap diri sendiri
Meskipun harga diri siswa dipengaruhi oleh keluarga dan kejadian di luar sekolah, hal-hal yang terjadi di kelas diharapkan dapat meningkatkan harga diri siswa.

4)    Sikap positif terhadap perbedaan
Siswa perlu mengembangkan sikap yang lebih toleran dan menerima perbedaan seperti etnik,  jender, kebangsaan dan keagamaan.

5)    Sikap terhadap permasalahan faktual yang ada di sekitarnya
Penilaian afektif juga dapat melihat fokus nilai semacam kejujuran, integritas, keadilan, dan nilai kebebasan. Fokus penilaian afektif dapat dikenakan terhadap permasalahan-permasalahan aktual di sekitar siswa.
Penilaian sikap dapat dilakukan dengan beberapa cara atau teknik antara lain: observasi perilaku, pertanyaan langsung, dan laporan pribadi. Hasil observasi perilaku dapat dijadikan sebagai umpan balik dalam pembinaan. Perilaku adalah kecenderungan seseorang dalam sesuatu hal.
Pada tes ini biasanya digunakan dengan   memanfaatkan   skala likert. Langkah-langkah dalam menyusun skala likert antara lain adalah: (1) Memilih variabel afektif yang akan diukur; (2) Membuat beberapa pernyataan tentang variabel afektif yang dimaksudkan;     (3) Mengklasifikasikan pernyataan positif atau negatif; (4) Menentukan jumlah gradual dan frase atau angka yang dapat menjadi alternatif pilihan; (5) Menyusun  pernyataan dan pilihan jawaban menjadi  sebuah  alat penilaian; (6) Melakukan ujicoba; (7) Membuang butir-butir pernyataan yang kurang baik; dan (8) Melaksanakan penilaian.

3.   Mengembangkan  Tes pada Domain Psikomotor

Pada umumnya pelajaran yang termasuk kelompok psikomotor adalah mata pelajaran  yang  indikator  keberhasilan  yang  lebih  beorientasi  pada  gerakan  dan menekankan  pada  reaksi-reaksi  fisik  atau  keterampilan  tangan.  Hasil  belajar psikomotor dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu: (1) specific responding, siswa baru mampu merespons hal-hal yang sifatnya fisik, yang dapat didengar, dilihat, atau diraba, misalnya memegang raket, memegang bed untuk tenis meja dsb. dan  (2) motor chaining, siswa sudah mampu menggabungkan lebih dari dua keterampilan dasar  menjadi  satu  keterampilan  gabungan,  misal  memukul  bola,  menggergaji, menggunakan  jangka  sorong.  Pada  tingkat  rule  using  siswa  sudah  dapat menggunakan hukum-hukum dan atau pengalaman-pengalaman untuk melakukan keterampilan yang komplek, misal bagaimana  memukul  bola  yang  tepat  agar dengan tenaga yang sama namun hasilnya lebih keras. Gagne (1977) berpendapat bahwa ada 2 kondisi yang dapat mengoptimalkan hasil belajar keterampilan yaitu kondisi internal dan eksternal. Untuk kondisi internal dapat dilakukan dengan cara, yakni (a) mengingatkan kembali sub-sub keterampilan yang sudah dipelajari dan (b) mengingatkan prosedur-prosedur atau langkah-langkah gerakan yang telah dikuasainya. Untuk kondisi eksternal dapat dilakukan dengan: (a) instruksi verbal, (b) gambar, (c) demonstrasi, (d) praktik, dan (e) umpan balik.
Soal untuk ranah psikomotor juga harus mengacu pada standar kompetensi yang sudah dijabarkan menjadi kompetensi dasar. Setiap butir standar kompetensi dijabarkan menjadi 3 sampai dengan 6 butir kompetensi dasar. Selanjutnya setiap butir kompetensi dasar dapat dijabarkan menjadi 3 sampai dengan 6 indikator dan setiap indikator harus dapat dibuat lebih dari satu butir soal. Namun, ada kalanya satu butir soal ranah psikomotor terdiri dari beberapa indikator. Instrumen psikomotor ini terdiri dari dua macam, yaitu (1) soal dan (2) lembar  yang  digunakan  untuk mengamati dan menilai jawaban siswa terhadap soal tersebut.

1)    Menyusun  Soal
Menyusun  soal  dapat  diawali  dengan  mencermati  kisi-kisi  instrumen psikomotor  yang  telah  dibuat.  Soal  harus  dijabarkan  dari  indikator  dengan memperhatikan materi pokok dan pengalaman belajar. Namun adakalanya soal ranah psikomotor untuk ujian    blok yang biasanya sudah mencapai tingkat psikomotor manipulasi, mencakup beberapa indikator.

2)    Menyusun Lembar Observasi dan Lembar Penilaian
Lembar observasi dan lembar penilaian harus mengacu pada soal. Soal atau lembar tugas atau perintah kerja inilah yang selanjutnya dijabarkan menjadi aspekaspek keterampilan. Lembar observasi pada tes unjuk kerja dapat Anda cermati juga pada UNIT   5.
Teknik asesmen, pendekatan, dan metode pembelajaran serta hasil belajar pada semua ranah merupakan hal yang tak terpisahkan satu dengan yang lain karena semua di desain untuk mencapai kompetensi yang dipersyaratkan. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah : Sejauhmana pola pembelajaran   mampu mengembangkan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor siswa. Pedoman Penilaian Depdiknas (2006) memvisualkan gambaran tersebut dalam Tabel berikut untuk mempermudah Anda mencermati keterkaitan ranah Kognitif,  Afektif, dan Psikomotor dalam Penilaian.











E.  KESIMPULAN

            Tes secara sederhana dapat diartikan sebagai himpunan pertanyaan yang harus  dijawab, pernyataan-pernyataan yang harus dipilih/ditanggapi, atau tugas-tugas yang harus dilakukan oleh peserta tes dengan tujuan untuk mengukur suatu aspek  tertentu  dari  peserta  tes. Jenis-jenis tes dapat dikelompokkan menjadi beberapa model klasifikasi yaitu :
ü  Pembagian jenis Tes berdasarkan tujuan penyelenggaraan.
ü  Jenis Tes berdasarkan waktu penyelenggaraan.
ü  Pembagian jenis tes berdasarkan cara mengerjakan.
ü  Pembagian jenis Tes berdasarkan cara Penyusunan.
ü  Pembagian jenis Tes berdasarkan bentuk jawaban.

Mengembangkan Tes sebagai instrumen asesmen proses dan   hasil   belajar adalah menyusun alat ukur suatu gejala yang bersifat abstrak yaitu pemahaman dan  penguasaan  anak  terhadap materi yang berupa seperangkat kompetensi dipersyaratkan. Untuk dapat mengembangkan tes yang baik perlu diperhatikan langkah pokok mengembangkan Tes yang meliputi:

1.  Perencanaan Tes
a. Menentukan cakupan materi yang akan diukur
b. Memilih bentuk tes
c. Menetapkan panjang tes

2. Menulis Butir Pertanyaan
a. Menulis draft soal
b. Memantapkan validitas isi (Content Validity)
c. Melakukan uji-coba (try out)
d. Revisi soal

3. Melakukan pengukuran dengan tes
a. Menjaga obyektivitas pelaksanaan
b. Memberikan skor pada hasil tes
c. Melakukan analisis hasil tes

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar